Hisab dan Rukyat: Haruskah Disamakan??

Setiap awal dan akhir bulan Ramadhan, selalu timbul rasa was-was. Apakah awal puasa dan lebaran nanti seluruh umat muslim di Indonesia akan bersamaan waktunya?? Tapi… apakah memang bisa disamakan waktunya? bisakah hisab dan rukyat benar-benar disatukan? atau biar saja ada kemungkinan tidak sama, karena itu adalah bagian dari keyakinan masing-masing?Pertama, selaman merayakan Idul Fitri 1436 H. Alhamdulillah, tahun ini kita memasuki bulan Ramadhan bersamaan dan mengakhirinya juga bersamaan.

Saya ingat tahun kemaren, saat Idul Fitri tidak dilakukan secara bersamaan. Pertemuan keluarga yang biasa dilakukan di sekitar Solo, Klaten dan Yogya, undangan yang kami terima menyatakan bahwa pertemuan akan dilakukan pada hari kedua. Artinya sehari setelah lebaran, keluarga akan kumpul bersama dan bersilaturahmi. Salam-salaman, sambil update informasi (bukan update status lho…).

Tapi waktu kami -keluarga dari Jawa Timur, datang ke lokasi pertemuan, ternyata pertemuan hari itu tidak ada. “Sudah dilaksanakan kemaren” kata tuan rumah. Lho?? “kan hari ini hari kedua?”. Ternyata tidak. Hari ini hari ketiga berdasarkan lebaran di sana. Meski memang hari ini adalah hari kedua berdasarkan keputusan pemerintah setelah melakukan sidang isbat.

Ya… itulah salah satu masalah yang bisa timbul kalau standar yang digunakan tidak sama. Tapi….. apakah memang kita harus mengawali dan mengakhiri Ramadhan pada hari yang sama?? Seperti yang disuarakan oleh beberapa orang dan beberapa pejabat di Indonesia?

Saya rasa koq tidak akan bisa. Kenapa??

Karena ini berkaitan dengan kPosisi Bulan @ 17 Juni 2015epercayaan. Saya sendiri percaya bahwa satu detik setelah ijtima’ -kondisi saat bumi, bulan dan matahari berada dalam satu bujur yang sama (lihat juga di sini) adalah bulan baru. Jadi kalau ijtima terjadi sebelum maghrib, maka malam itu adalah malam tanggal 1 bulan Hijriyah.

Tetapi pasti ada yang menyangkal. Karena ada yang mengamalkan sunnah bahwa kita diwajibkan melihat hilal. Artinya, meski ijtima’ terjadi namun hilal tidak tampak saat maghrib, maka bulan Hijriah saat itu harus digenapkan menjadi 30 hari.

Lha… kalau berkaitan dengan kepercayaan kan memang susah. Siapapun yang melarang kita melakukan atau memaksakan sesuatu, tidak akan dianggap, kalau sudah berkaitan dengan kepercayaan.

Posisi Bulan 16 Juli 2015Bilal -sang muadzin, di jaman Rasulullah pun masih mengesakan Allah dengan bergumam -“Ahad… ahad… ahad”, saat disiksa oleh tuannya agar beliau melepas keimanannya dan kembali menyembah latta, uzza dan manat.

Terus, bagaimana baiknya?

Pendapat saya, biarkan saja seseorang itu melaksanakan apa yang dipercayainya. Selama kepercayaan itu tidak merugikan atau membahayakan orang lain. Pemerintah (dalam hal ini departemen agama), hanya wajib mengajarkan kepada masyarkaat bagaimana dalil-dalil yang menjadi dasar dari pemilihan bulan baru tahun qamariah. Juga menginformasikan kondisi alam terkini -baik dari perhitungan ilmu pengetahuan atau hisab, maupun dari pengamatan di lapangan atau rukyat.

Biarkan orang dengan akalnya sendiri memilih mana yang akan diyakininya. Insya Allah, itu akan lebih mempertebal keimanannya. Allahu a’lamu bi shawab.

Sebagai penutup dan sebagai informasi saja, beberapa kali saya memulai dan mengakhiri Ramadhan lebih dulu dari istri tercinta. Dan itu sudah biasa bagi kami.


Leave a Reply