Creative Commons: Semakin Banyak yang Terbuka

Tahukah anda? saat ini ada lebih dari 1 milyar hasil karya bani Adam (baca: manusia) yang dilisensi sebagai karya yang terbuka. Yang setiap saat bisa kita akses dengan bebas. Bagaimana dengan Indonesia?

Dalam laporan akhir tahun 2015 –Creative Commons’ 2015 State of the Commons, CC melaporkan pada tahun 2015 ini sudah ada lebih dari 1 milyar karya atau ciptaan yang dilisensi CC oleh pemiliknya.  Dalam waktu 5 tahun, karya yang dilisensi CC meningkat hingga 3 kali lipat.

Taken from: https://stateof.creativecommons.org/2015/img/total-licensed-works.svg

Hal ini menunjukkan bahwa “Keinginan untuk Berbagi” sebenarnya adalah keinginan dasar umat manusia. Manusia senang membagi apa yang dimilikinya pada orang lain -bahkan pada orang yang tidak dikenalnya sekalipun. Hal ini juga terlihat pada data yang dimiliki oleh CC, bahwa lisensi CC-BY-SA adalah lisensi yang paling banyak penggunanya (37%). Sementara lisensi CC-BY atau lisensi paling terbuka menduduki peringkat kedua penggunaannya dengan 24%.

Laporan lengkap CC ini bisa dilihat pada link di atas.

Bagaimana DI Indonesia?

2 hal dalam laporan CC itu yang memuat kata Indonesia. Pertama lisensi CC sudah di terjemahkan dalam 34 bahasa dunia dan bahasa Indonesia adalah salah satunya. Hal ini tentu saja memudahkan masyarakat kita untuk mengetahui apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan pada sebuah karya cipta.

Yang kedua adalah kata Indonesia sebagai salah satu negara yang menerapkan kebijakan pendidikan terbuka atau open education policies. Hal ini menunjukkan bahwa banyak materi pendidikan yang sifatnya terbuka dan bebas untuk digunakan.

Namun dalam data yang lebih detail dari laporan ini (bisa dilihat di sini), ternyata halaman lisensi CC yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia HANYA diakses sebanyak 14.604 saja (bandingkan dengan terjemahan bahasa Malaysia yang 67.611).

Keadaan ini khusnudzon-nya adalah, orang-orang Indonesia sudah biasa membaca lisensi atau kontrak dalam bahasa Inggris. Sementara su’udzon-nya adalah, bangsa kita tidak peduli dengan lisensi yang memayungi sebuah karya manusia. Pokoknya pakai, kalau perlu modifikasi dan syukur kalau bisa jadi duit. Allahua’lam.

Tapi menurut saya, kita tetap harus meningkatkan awareness pada masyarakat kita pentingnya melihat lisensi pada karya orang lain dan menggunakan lisensi pada karya yang kita ciptakan.


Leave a Reply