Catatan Kecil LKS JATIM 2017

Pertama, selamat buat para pemenang Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Sekolah Menengah Kejuruan (LKS) provinsi Jawa Timur tahun 2017 yang diselenggarakan di kabupaten Banyuwangi pada tanggal 22 sampai dengan 27 Oktober 2017.

Berikut ini adalah catatan kecil buat peserta dan pembina LKS agar pada tahun-tahun mendatang bisa lebih baik.

Pertama tentang teori. Peserta LKS tahun 2017 ini sangat beragam, mulai dari yang paham teori jaringan dan Linux server, sampai dengan yang hanya memahami kulitnya saja. Sayangnya lebih dari 50% peserta, pada materi teori hanya mampu mendapatkan nilai maksimal 50.

Sesuai dengan kesepakatan juri, teori memang memiliki kontribusi yang kecil pada penilaian. Namun menurut saya, dengan pemahaman teori yang baik maka penyelesaian masalah atau troubleshooting akan menjadi lebih terarah. Bahkan pemahaman tentang apa dan bagaimana yang harus dilakukan dalam menyelesaikan masalah dapat dibangun pada seseorang yang memahami teorinya.

Selanjutnya tentang praktek. Pada bagian praktek ini, saya bisa membagi menjadi 3 sub-bagian: instalasi dan administrasi client side, instalasi dan administrasi server side, dan instalasi dan administrasi jaringan.

Untuk instalasi dan administrasi client side, saya tidak melihat masalah sama sekali. Semua siswa mampu melakukan instalasi dan administrasi -yang perlu, pada Microsoft Windows™ maupun pada BlankOn Linux. Kesulitan hanya saya lihat karena adanya masalah pada ISO BlankOn yang diunduh oleh peserta yang tidak dapat dijalankan pada VirtualBox™ yang digunakan. Tapi itu bukanlah suatu masalah yang besar.

Sementara untuk administrasi router Mikrotik™, pada umumnya peserta sudah paham. Untuk kebutuhan routing IPv6, 90% peserta sudah bisa mengaktifkan fungsi IPv6 (yang secara default di-disable) di Mikrotik™. Membuat WiFi dan Hotspot pasti sudah menjadi makanan sehari-hari. Static routing, Virtual Private Network (VPN) access dan NAT juga sudah menjadi standar sayur dan lauk pauk makanan sehari-hari itu. Jadi semua materi untuk membuat sebuah router di sisi client dengan Mikrotik™ sudah bisa dilalui.

Namun….. -seperti pada LKS-LKS sebelumnya, LKS kali ini para juri mengarahkan soal tidak hanya pada penggunaan Mikrotik™  di sisi client. Bahkan pada soal kali ini, juri sepakat menambahkan dynamic routing dengan protokol Open Shortest Path First (OSPF) untuk digunakan di dalam router. Demikian juga untuk koneksi ke server pusat, juri sepakat menggunakan Virtual Local Area Network (VLAN) sebagai media komunikasinya. Ya… saya pribadi setuju dengan penambahan materi di atas, mengingat itulah yang sekarang diperlukan di dunia industri. Bahkan seharusnya sudah ada materi untuk menguji kecakapan membuat Border Gateway Protocol (BGP), melakukan filtering BGP, prepending routing dan beberapa materi lain yang pasti akan dilakukan jika peserta ini diterima oleh sebuah ISP atau perusahaan dengan jaringan yang besar.

Kesalahan umum pertama (dan sering terjadi di LKS dari waktu ke waktu) dalam instalasi router adalah membiarkan infertace bridge dengan fungsi masquerade yang menjadi default di router Mikrotik™. Pokoknya port 2 bisa akses ke server pusat, sudah dianggap sebagai sebuah keberhasilan. Tentu saja hal ini bukanlah keberhasilan kalau kita akan memfungsikan sebuah server public pada port nomor 2 -karena server harus bisa diakses dari luar sehingga fungsi routing harus menggantikan fungsi NAT pada port tersebut.

Kesalahan lain di sisi router kelihatannya tidak signifikan. Biasanya cuma karena salah menghitung network IPv4, salah mencantumkan netmask, dan beberapa kesalahan minor lainnya. Bukan sesuatu yang “tidak bisa” tetapi lebih ke sesuatu yang “tergesa-gesa”.

Yang terakhir, untuk instalasi dan administrasi server. Instalasi server Debian Linux tidak ada masalah yang berarti, demikian juga untuk instalasi daemon-daemon yang dibutuhkan.  Namun pada administrasi server ada beberapa catatan.

Pertama untuk firewall, yang sering kelupaan adalah menambahkan rule accept untuk state yang related atau menambahkan rule accept untuk packet dengan source port yang di-accept. Ini untuk meyakinkan bahwa packet-packet dengan tujuan ke daemon tertentu dapat mengembalikan koneksi ke client.  Juga beberapa peserta lupa memberikan policy drop dan menambahkan semua packet drop di akhir rule firewall.

Kedua untuk bind9, yang sering kelupaan adalah menambahkan allow-transfer dan allow-update agar DNS server yang dibuat dapat mentransfer zone authoritative-nya ke slave server.

Catatan ketiga, beberapa peserta tidak dapat membuat certificate untuk Secure Sockect Layer (SSL) yang diminta.

Yang lain kelihatannya semua sudah lancar. Oh iya… ada satu kebiasaan buruk peserta semenjak lama, yaitu keluar dari aplikasi dengan menggunakan CTRL+Z dan bukan melalui prosedur standar (misalkan CTRL+X untuk nano atau CTRL+C untuk menghentikan ping). Memang semuanya akan mengarahkan terminal kita ke shell yang ada, tapi CTRL+Z itu artinya memindah aplikasi ke background, sehingga aplikasi bukannya berhenti tetapi tetap ada namun tidak mengeluarkan output ke layar.

Demikian beberapa catatan kecil untuk LKS pemprov JATIM tahun ini. Semoga bermanfaat untuk peningkatan kualitas siswa-siswa SMK.

Eh…. ada tambahan. Pada setiap lomba pasti ada kalah dan ada menang. “It’s just a simple fact of life” kata Freddie Mercury -The Queens. Jadi jangan terlalu terbebani bahwa harus menang (apalagi sampai menggunakan cara yang tidak baik), tapi tetap kita harus berusaha keras untuk bisa menang. Dan yang harus disadari bahwa kecakapan seseorang itu bukan dari beberapa hari atau beberapa minggu belajar, tetapi di dapat dari beberapa tahun praktek secara langsung.

Ada lebih atau kurangnya, saya mohon maaf.

ps. nilai sudah ada di panitia, jadi sebaiknya ditanyakan ke panitia saja.


Leave a Reply